Hatiku
begitu tercabik-cabik melihat kenyataan ini. Kenyataan yang begitu pahit
rasanya. Aku kehilangan dua bola mataku. Ini semua tak lepas dari ulah si Reza
itu. Gara-gara dia aku tak bisa lagi melihat indahnya dunia. Tak bisa lagi
melihat lagi bunga-bunga bermekaran di taman. Tak bisa lagi memandang langit
nan biru. Dan tak bisa lagi melihat ayah dan ibukku. Semua keindahan di dunia
ini telah sirna.
Penderitaan ini berawal dari aksi
nekat ku bersama si Reza itu. Reza yang membawaku pergi. Pergi ke tempat yang
begitu jauh. Katanya disana aku bisa meraih semua mimpi-mimpiku. Aku pun nekat kabur dari rumah. Meninggalkan emak dan
bapakku yang padahal kala itu tengah terhimpit hutang piutang.
Aku pergi tidak bilang-bilang. Aku
hanya menitipkan secarik surat di meja makan. Isi surat itu mengatakan bahwa
aku pergi ke sebuah tempat yang jauh. Ke tempat dimana aku bisa meraih semua
mimpi-mimpiku.
Manusia boleh berkeinginan, tapi jika
Tuhan telah berkehendak lain. Maka apa boleh buat. Mobil yang membawaku pergi
tertabrak bus. Supir bus itu ngantuk. Jadilah bus itu oleng dan menghantam
mobil Reza. Aku dan Reza pingsan seketika.
Untunglah ada orang mau menolong kami
berdua. Kami dilarikan ke rumah sakit. Akulah yang menderita luka cukup parah. Kedua
kakiku retak dan mukaku memar. Terlebih serpihan kaca itu mengenai kedua bola
mataku. Sedangkan, Reza hanya menderita luka ringan.
Reza sadar terlebih dahulu daripada
aku. Ia segera menyelesaikan biaya pengobatan kami. Setelah itu, ia pergi
meninggalkan rumah sakit itu. Aku pun tersadar. Setelah dua jam pingsan.
Dokterlah yang memberitahu aku bahwa Reza sudah pergi.
Aku merasa heran. Entah kenapa setelah
perban dimataku dibuka. Aku tidak bisa melihat dunia ini. Muka dokter yang
berada disampingku juga tak terlihat. Dan dokter pun berkata: “Serpihan kaca
itu mengenai kedua matamu. Sehingga kornea matamu rusak. Inilah yang menyebabkan
kamu tak bisa melihat lagi”
Perkataan dokter itu membuat hidupku
seakan tak berarti lagi. Hidupku kini menjadi gelap. Sekarang aku hidup
sebatang kara dengan kegelapan. Si Reza memang lelaki pengecut. Dia
meninggalkan aku sendirian. Dengan kegelapan ini. Aku sebenarnya butuh orang
untuk membantuku menitih jalan. Jalan untuk meraih semua mimpi-mimpiku.
Semua mimpiku telah sirna. Dihantam
kenyataan pilu ini. Hari-hari setelah keluar dari rumah sakit. Kujalani tanpa
arah dan tujuan. Aku berjalan dengan menggunakan tongkat pemberian rumah sakit.
Dialah teman setia yang selalu menemaniku dimanapun aku berada. Dia yang
menuntunku menyusuri jalan yang begitu gelap.
Begitulah realita hidupku. Hingga
sampai pada akhirnya aku tertangkap polisi. Aku dikira gelandangan oleh
polisi-polisi itu.
Tapi, Tuhan begitu baik padaku. Hingga
aku masih bisa diselamatkan oleh-Nya. Ketika itu aku dibantu seorang pemuda.
Dia yang membawaku pergi menjauh dari polisi-polisi itu. Nafasnya begitu
terengah-engah. Ia menggandeng tanganku. Dengan langkah secepat kuda pacu.
Alhasil, sampailah aku di sebuah sudut
jalan. Aku memberhentikan langkah
kakiku. Di sebuah jalan yang menurut firasat ku itu sudah aman.”Hei, mengapa
kau rela membawaku, padahal engkau tidak mengenalku?” tanyaku.
“Ini
adalah kewajibanku.” Jawabnya sambil meraih tanganku untuk terus lari.
Ternyata ia membawaku pergi ke kontrakkannya.
Disebuah gang kecil disudut kota. Ketika sampai, ia lekas memanggil kelima
temannya. Ia berusaha memperkenalkan temannya itu padaku. Semuanya menyambutku
dengan ramah.
***
“O, ya..kamu disini saja. Aku akan
pergi dulu sebentar.” Kata pemuda itu.
“Oh, maafkan aku jika merepotkanmu?”
“Tidak, ini adalah kewajibanku.”
Jawabnya untuk kedua kalinya ia mengatakan seperti itu.
“Hoho..kau mengatakan ini sudah dua
kali lho.”
“Hehe..sudah ya aku berangkat dulu.”
Ujarnya.
Suara tapak kakinya kian menjauh.
Mungkin, ia sudah berada jauh dari rumah ini. Perlahan tapi pasti. Aku mulai akrab
dengan mereka semua. Mereka semua begitu baik.
“Tapi aku harus bisa membalas kebaikan
mereka semua.” Gumamku dalam hati.
Kubangkitkan seluruh jiwa-ragaku. Aku
bulatkan niat untuk membuat nasi goreng itu. Mumpung tidak ada orang di rumah
selain aku. Kutapakki kakiku di lantai. Kucari tongkat dengan tangan kiriku. Tangan
satu lagi kugunakan untuk meraba tembok menuju dapur. Jalanku menuju dapur tak
semulus kain sutra. Beberapa kali aku terjatuh. Dan untuk sekian kalinya aku
menabrak benda-benda di rumah itu.
Belum sempat aku menyelesaikan
pekerjaan itu, ternyata ada sesorang mengetuk pintu.
“Hei, bukakan pintu”
“Bentar” teriakku dari dapur.
Ternyata suara orang yang datang itu
persis dengan pemuda yang menolongku tempo hari.
“Hei, lama sekali membukakan
pintunya.” Tegur pemuda itu.
“Maaf…aku sedang di dapur.” Jawabku
tersipu malu.
“Hei, ini kubawa tasbih untuk menemani
hari-harimu. Semoga kau suka..”
“Makasih ya, aku sangat suka.”
Aku malu dengan semua ini. Mengapa aku
baru ingat Tuhan saat aku buta? Mengapa tidak saat aku masih bisa melihat?, sesalku
dalam hati.
***
Pemuda itu sangat baik. Temannya juga
sangat ramah padaku. Mereka dengan senang hati menerimaku di kontrakannya.
Tidak seperti si Reza, pikirku.
Pokoknya aku tidak akan memaafkan Reza. Kemana dia coba? Dia tidak menolongku
saat aku buta. Aku benci sama yang namanya Reza.
“Sssstt…diam jangan berisik! Jangan
sampai terdengar sama Rifa. Kalian jangan sampai memberitahu bahwa yang
menyuruh kalian membantu dia adalah aku.” Suara itu jelas terdengar. Ketika aku
ingin ke kamar mandi. Aku berhenti sejenak mendengar pembicaraan itu.
Meskipun aku tidak bisa melihat. Tapi aku
bisa mendengar suara itu. Suara itu…
Suara Reza, ya benar itu jelas suara
Reza.
Kubuka pintu itu. Orang-orang yang
sedang berbicara itu kemudian diam. Seseorang menghampiriku.
“Rifa…” terdengar suara menyapaku.
Firasatku benar. Dia adalah Reza. Dia
memelukku erat-erat.
“Ini benar Reza?” Tanyaku penasaran.
Aku mencoba meraba mukanya.
“Iya…”
***
“Rifa banguunnn…sudah nyampe.” Suara
Reza membangunkanku.
Aku mengucek-ngucek mata. Dan aku
sadar aku tertidur di mobil Reza.
“Rezaaaa…maafin aku!” Teriakku sambil memeluk
Reza.
“Kenapa sih kau?”
“Engga papa, pokoknya kamu adalah
Lentera Jiwaku.”
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar